menulusuri jejak sunah.............
|
|
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Tadabbur Surat Al-Buruj (Gugusan Bintang): Para
Penggali Parit
Mukaddimah: Gugusan-Gugusan Bintang
dakwatuna.com – Para ahli tafsir sepakat
berpendapat bahwa bahwa surat al-Burûjditurunkan di Makkah setelah
surat asy-Syams([1]).
Surat ini masih membahas dan menekankan masalah aqidah dan penguatan keyakinan tentang hari akhir. Di samping itu
tambahan yang ada dalam surat ini selain pembahasan tersebut adalah tentang kisah ashabul
ukhdud (para penggali parit) yaitu sebuah cerita tentang pengorbanan
dan tebusan jiwa dalam mempertahankan akidah dan iman([2]).
Dalam surat ini Allah kembali bersumpah dengan langit ciptaan-Nya yang memiliki
gugusan-gugusan bintang, tempat bintang-bintang berpusat dan beredar, serta demi
hari yang telah dijanjikan-Nya yaitu hari kiamat,
sekaligus menyampaikan kedahsyatan kekuasaan Allah yang tiada batas([3]).
Kesaksian-Kesaksian
“Demi langit yang mempunyai gugusan
bintang. Dan hari yang dijanjikan. Dan yang menyaksikan dan yang disaksikan”.
(QS. 85: 1-3)
Allah bersumpah dengan empat hal
dalam surat ini.
Pertama, demi langit yang mempunyai gugusan-gugusan bintang. Langit
yang luasnya hanya diketahui oleh-Nya itu memiliki gugusan, tempat semayam
bintang-bintang yang menjadi penghias alam semesta sekaligus sebagai pelempar
untuk setan-setan([4]).
Hal ini agar manusia berpikir bahwa tanda-tanda kekuasaan Allah itu jelas, bisa
dilihat dan dirasakan, kemudian bisa ditadabburi dan pada akhirnya diperintah
untuk mengambil kesimpulan. Memang sampai saat ini tak ada yang bisa mencapai
langit, bahkan melihatnya pun tidak sanggup. Namun, manusia bisa melihat dan
memperhatikan bintang-bintang yang dijadikan Allah sebagai penghias langit
dunia.
Kedua, Allah bersumpah dengan hari yang dijanjikan. Para ahli
tafsir sepakat bahwa hari yang dimaksud dalam ayat ini adalah hari kiamat.
Ketiga dan keempat, Allah bersumpah dengan syâhid (yang
menyaksikan) dan masyhûd (yang disaksikan). Ibnu Abbas, Hasan
al-Bashry dan Said bin Jubair menafsirkan syâhid yaitu Allah
dan masyhûdadalah yang selainnya([5]).Sedangkan
Mujahid dan Ikrimah berpendapat bahwa syâhid adalah manusia
dan masyhûd adalah yang bisa dilihatnya([6]).
Dan Sahal bin Abdullah mengatakan bahwa syâhidadalah malaikat
dan masyhûd adalah manusia dan amalnya ([7]).
Hal tersebut juga sekaligus mengingatkan manusia akan adanya pengawasan dan
pengadilan agung.
Sumpah-sumpah di atas terjawab
dengan ayat keempat, “Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat
parit. Yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar. Ketika mereka duduk di
sekitarnya. Sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap
orang-orang yang beriman” (QS. 85: 4-7)
Ayat ini berkisah tentang ashâbul
ukhdûd (penggali parit) sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim([8]) dan
at-Tirmizi([9]) dari
riwayat sahabat Shuhaib ar-Rumy ra. Rasululullah bercerita tentang ashâbul
ukhdûd, “Dahulu ada seorang raja([10]) yang
memiliki penasehat seorang ahli sihir yang ternama. Usianya sudah sangat
lanjut. Penyihir tersebut hendak mencari penerus dan pewaris ilmunya yang kelak
akan menggantikan posisinya sebagai penasehat raja. Hingga didapatlah seorang
anak laki-laki yang cerdas. Sayangnya sang anak tersebut (ghulam) sering
berbeda pendapat dan perangai dengan sang penyihir tersebut. Di tengah jalan
antara rumahnya dan istana, terdapat sebuah gua yang dihuni oleh seorang rahib.
Setiap ghulam lewat tempat tersebut ia selalu bertanya beberapa hal kepada sang
rahib. Hingga sang rahib mengaku bahwa dia menyembah Allah dan mengesakannya.
Lambat laun Ghulam lebih suka berlama-lama di tempat rahib untuk belajar dan
selalu terlambat datang ke tempat tukang sihir. Hingga suatu saat kerajaan
memerintahkan menjemput ke rumah karena hampir saja ia tidak hadir pada suatu
hari. Ghulam memberitahu perihal ini kepada rahib. Sang rahib menjawab
mencarikan rasionalisasi: Jika penyihir itu bertanya di mana engkau, jawab saja
aku ada di rumahku. Jika keluargamu menanyakan keberadaanmu maka beritahu
mereka bahwa engkau berada di tempat penyihir. Suatu hari, ketika Ghulam sedang
di jalan ia menjumpai sekelompok orang terhenti jalannya karena ada binatang
buas (singa) yang menghalangi mereka. Ghulam segera mengambil batu dan berkata:
Ya Allah jika yang dikatakan sang rahib benar maka izinkan aku membunuh
binatang ini. Jika apa yang dikatakan sang penyihir yang benar maka aku meminta
supaya engkau menggagalkanku membunuh binatang ini. Kemudian ia lempar batu
tersebut dan binatang itu mati seketika. Orang-orang pun terperanjat setelah
tahu bahwa anak kecil itu yang membunuhnya. Mereka berkata: anak itu tahu suatu
ilmu yang tidak diketahui oleh orang lain. Hingga didengarlah oleh seorang
pejabat kerajaan yang buta. Ia mendatangi ghulam dan berkata: Jika engkau
kembalikan penglihatanku maka akan aku beri hadiah ini dan itu. Ghulam
menjawab: Aku tak memerlukan itu dari Anda. Jika aku bisa mengembalikan
penglihatanmu apakah engkau beriman kepada Dzat yang mengembalikan
penglihatanmu? Dia menjawab: ya. Maka sang buta tersebut dapat melihat dan
beriman pada ghulam. Berita ini tersiar sampai ke kerajaan. Hingga sang raja marah
besar dan membunuhi siapa saja yang mengikuti ajaran sang ghulam. Hingga
ditangkaplah sang rahib dan sang buta yang telah melihat. Mereka berdua dibunuh
dengan sadis, yaitu dibelah badannya dengan gergaji. Ghulam yang ditangkap
akhirnya dibawa ke atas gunung bersama beberapa tentara kerajaan untuk dilempar
dari atas gunung. Namun, tak ada yang selamat dari atas gunung kecuali ghulam
dan ia pun kembali. Sang raja memerintahkan untuk membawa ghulam ke tengah laut
untuk dibuang di sana. Badai pun menyerang mereka. Tak ada yang selamat kecuali
ghulam. Ia pun kembali lagi. Setiap makar yang dibuat untuk membunuhnya selalu
gagal. Akhirnya ghulam berkata kepada sang raja: Engkau takkan bisa membunuhku
kecuali dengan menyalibku di depan rakyatmu kemudian memanahku sambil berkata “bismillah rabbil ghulam” [dengan nama Allah Tuhan anak
kecil ini]. Setelah disalib dan sang raja mengucapkan kata-kata tersebut dengan
keras, panah yang meluncur dari busur sang raja itupun menancap di tubuh ghulam
dan menewaskannya sebagai seorang syahid. Orang-orang di sekitarnya berkata:
ghulam tahu ilmu yang tidak diketahui orang lain, kita harus beriman kepada
Tuhannya. Sang raja murka dan memerintahkan untuk menggali parit dan menyalakan
api. Barang siapa yang tak mau meninggalkan agamanya (agama ghulam) maka akan
dilempar ke dalam parit yang menyala-nyala tersebut. Hingga ada seorang ibu
yang menyusui anaknya sedang ragu-ragu. Sang bayi yang ada dalam buaiannya pun
berkata meyakinkannya: Ibu, sabarlah. Sesungguhnya engkau berada dalam pihak
yang benar ” ([11]).
Dalam peristiwa pembakaran dan
pembunuhan kaum mukminin ini gugur sebagai syuhada ribuan orang-orang yang
beriman kepada Allah([12]).
Raja Najran tersebut mengerahkan segala tentaranya untuk membunuh kaum beriman
dengan cara membakar mereka hidup-hidup di dalam parit besar yang mereka
sediakan. Mereka saling menyaksikan dan dengan bodohnya mereka melakukan
kezhaliman. Hati nurani mereka yang jernih telah terkeruhkan oleh angkara dan
nafsu kekuasaan.
Semena-Mena Terhadap Kaum Beriman
“Dan mereka tidak menyiksa
orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada
Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. Yang mempunyai kerajaan langit dan
bumi; dan Allah Maha menyaksikan segala sesuatu” (QS. 85: 8-9)
Apa yang dilakukan oleh ashabul
ukhdûd bukanlah sesuatu hal baru. Bani Israil bahkan membunuh dan
mengejar-ngejar nabi-nabi dan rasul yang diutus Allah kepada mereka. Hal
seperti ini akan terulang terus sepanjang waktu. Karena dalam realita akan
selalu ada tokoh antagonis yang memusuhi risalah yang dibawa oleh utusan Allah
dan diimani oleh orang-orang mukminin. Orang-orang kafir yang dengki dan iri
tersebut tidaklah berbuat keji dan menyiksa kaum mukminin kecuali hanya karena
keyakinan yang mereka pegang dengan sepenuh jiwa. Kaum mukminin tersebut disiksa
hanya karena beriman pada Dzat Yang Esa, pemilik kerajaan langit dan bumi.
Hal ini juga dirasakan oleh para
sahabat Nabi saw. as-sâbiqûn al-awwalûn pada periode Makkah.
Bahkan Nabi Muhammad saw sendiri tak luput dari intimidasi ini. Terlebih sepeninggal
Khadijah ra. dan paman beliau Abu Thalib. Bani Tsaqif yang tadinya diharapkan
mau melindungi beliau ternyata memusuhinya. Tua, muda, laki-laki, perempuan
dari segala umur dikerahkan untuk melempari beliau. Hingga beliau terusir dari
Thaif dengan tubuh berdarah-darah. Semoga Allah merahmati beliau –shallalLâhu
‘alaihi wa sallam– orang mulia yang tak pernah menyimpan dendam. Bahkan
kepada mereka yang dengan tega memperlakukannya seperti di atas.
“Sesungguhnya orang-orang yang
mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan
kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka
azab (neraka) yang membakar”. (QS. 85: 10)
Orang-orang yang berlaku kejam dan
aniaya terhadap orang-orang beriman seperti di atas kelak akan dibalas Allah
dengan neraka yang lebih panas daya bakar dan apinya. Padahal Allah membuka
pintu taubat. Dengan syarat taubat tersebut dilakukan sebelum diturunkannya adzab
dan sebelum nyawa mereka dicabut oleh malaikat pencabut nyawa([13]).
“Sesungguhnya orang-orang yang
beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh bagi mereka surga yang mengalir di
bawahnya sungai-sungai; Itulah keberuntungan yang besar”. (QS. 85: 11)
Sementara itu orang-orang yang
bersabar dan mampu tsabat dalam mempertahankan akidahnya di tengah himpitan dan
aniaya orang-orang jahat tersebut, bagi mereka balasan Allah yang tiada
bandingannya. Orang-orang beriman itu akan dihadiahi Allah kebun-kebun yang
sangat luas, yang di bawahnya mengalir sungai-sungai yang jernih airnya. Itulah
sebenar-benar kemenangan yang besar dan hakiki.
Kesempurnaan Sifat Dan Kekuasaan-Nya
Dzat yang bisa dan mampu berlaku apa
saja terhadap orang-orang zhalim serta pasti memberikan balasan yang baik bagi
hamba-Nya yang bersabar di atas adalah Dzat Yang Maha Sempurna yang tak
memiliki kekurangan sedikitpun. Di dalam ayat ini disebutkan beberapa
karakteristik yang sesuai dengan maqam cerita ashabulukhdud serta setting umat
Islam pada periode Makkah yang sangat tertindas.
1. Sifat Pertama, “Sesungguhnya
azab Tuhanmu benar-benar keras”. (QS. 85: 12)
Penempatan sifat ini mungkin
dimaksudkan sebagai peringatan keras bagi orang-orang zhalim. Sebagai ancaman
sekaligus teguran, juga membuka peluang bagi mereka untuk bertaubat.
Karena Dia sanggup menangguhkan adzab-Nya sekaligus membalas kekejaman
orang-orang zhalim tersebut dengan balasan yang sangat pedih dan setimpal pula.
2. Sifat Kedua, “Sesungguhnya
Dia-lah yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali)”.
(QS. 85: 13)
Adapun penguasa hari kebangkitan
sekaligus sang pencipta yang tak tertandingi ini adalah Dzat yang sanggup
menciptakan apapun dari permulaannya. Apalagi sekadar mengembalikan dari yang
pernah ada tentunya hal tersebut sangat mudah. Dan setelah dihidupkan lagi
mereka semua menerima konsekuensinya. Yang baik akan dibalas dengan kebaikan
dan yang buruk akan menerima pembalasan yang setimpal.
3. Sifat Ketiga, “Dia-lah yang
Maha Pengampun lagi Maha Pengasih”. (QS. 85: 14)
Luar biasa karunia dan kasih
sayang-Nya. Betapapun ulah zhalim dan melampaui batas dari hamba-hamba-Nya,
tapi Allah tak pernah sekalipun menutup pintu taubat-Nya. Allah selalu
memanggil hamba-hamba-Nya. Setiap saat. Setiap hari di sepertiga malam
terakhir. Siapa yang mendatangi-Nya dengan segala tadharru’ meski
ia bergelimang dosa, Allah akan mengampuninya. Allah bahkan mengasihi semua
makhluk-Nya. Tak memperdulikan keadaan mereka yang taat dan yang bejat,
semuanya dibagi dan diberi rezeki yang sesuai. Subsidi kenikmatan-Nya tak
pernah sedetik pun berhenti kepada para makhluk-Nya.
4. Sifat Keempat, “Yang mempunyai
‘Arsy, lagi Maha Mulia”. (QS. 85: 15)
Kelak sebagaimana janji-Nya kita
akan bertemu dengan puncak kemuliaan, saat menjumpai-Nya di “singgasana”-Nya,
di Arsy-Nya. Kita –allhumma amin– insya Allah akan diizinkan melihat dan
berjumpa dengan Dzat Yang Maha Mulia ini. Yang kemuliaan dan sifat pendermanya
tiada batas. Raja, penguasa yang ada di dunia ini mungkin bisa jadi sangat
membanggakan istana dan singgasananya. Namun, hal itu tiada sebanding dengan
Arsy-Nya yang luas dan dimuliakan seluruh penduduk langit.
5. Sifat Kelima, “Maha Kuasa
berbuat apa yang dikehendaki-Nya”. (QS. 85: 16)
Sangat layak -memang- jika Allah lah
yang menyandang sifat ini. Dia yang maha berkehendak dan berkuasa berbuat
apapun sesuai titah-Nya. Takkan ada yang sanggup mencegah keinginan-Nya.
Belajar dari Sejarah Masa Lalu
“Sudahkah datang kepadamu berita
kaum-kaum penentang (yaitu kaum) Fir’aun dan (kaum) Tsamud?”.(QS. 85:
17-18)
Siapa yang tak mengenal Fir’aun ini.
Penguasa yang sangat lalim dan keji serta menghalalkan apa saja untuk
mempertahankan kekuasaannya. Meskipun ia berhasil membangun peradaban bangsanya
sehingga dikenal oleh dunia sepanjang masa. Namun, kemegahan dan kejayaan yang
dibangun di atas puing-puing derita dan kezhaliman takkan pernah membahagiakan
pemiliknya. Allah akan binasakan orang-orang zhalim dan pongah seperti ini.
Hingga saat ini, kita –seharusnya- bisa belajar dari kisah sejarah keangkuhan
dan kesombongan ini. Megahnya peradaban Mesir kuno, tak banyak membawa manfaat
bila para pelakunya zhalim dan mendurhakai Allah. Mereka tak kuasa melawan
takdir Allah saat digulung air laut yang menelan mereka, Fir’aun dengan semua
tentaranya dan segala keangkuhannya.
Juga Kaum Tsamud, kaum yang tak
kalah cerdik dan pandainya. Kaum yang sangat kuat dan berperadaban paling maju
di zamannya.
“… kamu dirikan istana-istana di
tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah”(QS.
7: 74)
Para pemahat gunung, seniman agung
dan pemilik gedung-gedung raksasa dari bahan serba batu itu pun tak kuasa
membendung kekuasaan Allah. Tidak dengan kepandaian mereka. Juga tidak dengan
kekuatan fisik mereka yang melebihi orang-orang modern. Jika saat adzab tiba,
saat pintu taubat telah tertutup mereka benar-benar menjumpai kebinasaannya. “Adapun
kaum Tsamud, Maka mereka telah dibinasakan dengan kejadian yang luar biasa
(sambaran petir dan suara yang memekakkan telinga)”. (QS. 69: 5)
Seharusnya dengan dua peristiwa
tersebut membuat kita lebih bisa merenung dan berpikir bahwa ketika Allah masih
memberi peluang kita mesti gunakan dengan sebaik-baiknya. Supaya kelak kita tidak
terlalu menyesal karena kelalaian dan sifat yang suka menunda-nunda.
“Sesungguhnya orang-orang kafir
selalu mendustakan. Padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka”.
(QS. 85: 19-20)
Sayangnya orang-orang kafir selalu
ada. Orang-orang lalai dan terlena dengan dunia selalu saja memiliki pengikut
dan pembela. Dan mereka selalu melecehkan ajakan berbuat baik dan bahkan
membalikkannya dengan tuduhan keji dan hina. Mereka dengan sangat congkak
mendustakan risalah kebenaran yang dibawa Rasul-Nya. Salah satu yang paling
mereka dustakan adalah hari kiamat dan pembalasan.
Tidakkah mereka tahu bahwa Allah
Maha Melihat dan Mendengar. Dzat yang serba maha tersebut tidak pernah lalai
sedetikpun untuk memperhatikan semua gerak-gerik hamba-Nya. Bahkan sampai
sesuatu yang terdetik dalam hati mereka Dia selalu mengetahuinya secara detil.
Imam al-Alusy mempunyai penakwilan
yang menarik tentang ayat di atas. Kata “min wara’ihim” yang berarti
dari belakang mereka, seolah menggambarkan sedemikian zhalimnya orang-orang
yang mendustakan ajaran Allah di atas. Mereka membelakangi Allah, meletakkan
ajaran Allah di belakang mereka dan selalu mengedepankan hawa nafsu dan dunia
yang sangat mereka cintai melebihi segala-galanya ([14]).
Keberanian yang Melampaui Batas
Orang-orang yang digambarkan di atas
sungguh berbuat apa saja dalam hidup mereka. Mereka bahkan sangat yakin bahwa
hari akhir adalah sebuah mitos belaka. Karena itu mereka mendustakan hari akhir
dan segala hal yang menjadi keniscayaannya, hari kehancuran, hari kebangkitan,
hari penghitungan amal dan hisab serta kemudian hari pembalasan dan kesudahan
dari segalanya. Dan… “bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al-Quran yang
mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh” (QS. 85: 21-22)
Jika yang mereka dustakan dan mereka
anggap mitos adalah Al-Quran, berarti sama saja dengan menuduh bahwa Allah
adalah pembohong besar. Dan inilah petaka yang sangat besar karena mendatangkan
kemurkaan Allah. Menuduh Allah dengan tuduhan keji dan sembarangan serta tanpa
bukti sedikitpun. Dan mereka meremehkan perbuatan tersebut. Padahal kelak Allah
akan mintai pertanggungjawaban dari semua tuduhan jahat tersebut.
Tahukah mereka bahwa yang mereka
dustakan adalah kalam suci yang tersimpan di lauh mahfuzh. Menurut Ibnu Abbas
luasnya melebihi luas langit dan bumi. Warnanya putih cemerlang, lembarannya
terbuat dari permata yaqut merah yang mengkilat penanya adalah cahaya. Allah
menengoknya dalam sehari 300 kali. Dia mencipta dan memberi rezeki. Dia
menghidupkan dan mematikan. Dia memuliakan seseorang dan merendahkan yang
lainnya. Dia melakukan semuanya sesuka-Nya, sesuai kehendak-Nya, tanpa ada yang
menghalangi([15]).
Semoga takdir kita yang termaktub
dalam lauh mahfuzh sebagai hamba-hamba-Nya yang shalih dan
dirahmati selalu oleh Allah, baik di dunia maupun kelak di akhirat. Amin.
—
Catatan Kaki:
[1] lihat: Jalaluddin
as-Suyuthi, al-Itqân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Kutub
al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M/1425 H, hlm. 20-22; Badruddin az-Zarkasyi, al-Burhân
fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Fikr, Cet.I, 1988 M/1408 H, Vol.1, hlm.
249. Prof. Dr. Jum’ah Ali Abd. Qadir,Ma’âlim Suar al-Qur’ân,
Cairo: Universitas al-Azhar, cet.I, 2004 M/1424 H, vol.2, hlm.778
[2] akan dikisahkan lebih lanjut
ketika menadabburi ayat ke 4-7 dalam surat ini.
[3] Muhammad Ali ash-Shabuny, Ijâzu
al-Bayân fi Suar al-Qur’an, tt: Dar Ali Ash-Shabuny, 1986 M-1406 H, hlm.
289-290
[4] sebagaimana dalam QS. Al-Mulk: 5
[5] al-Baghawy, Ma’alim
at-Tanzil, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M-1424 H, Vol.IV,
hlm. 436. Lihat juga: Muhammad bin Ahmad al-Qurthuby, al-Jami’ li
Ahkami al-Qur’an, Cairo: Darul Hadits, 2002 M-1423 H, Vol.X, hlm. 236
[6] Ibnu Jarir ath-Thabary, Jami’
al-Bayan fi Ta’wil Ayy al-Qur’an, ta’liq: Muhammad Syakir, Beirut: Dar
Ihya’ at-Turats al-Araby, Cet.I, 2001 M-1421 H, Vol.XXX, hlm.160)
[7] Sahal bin Abdullah
at-Tustary, Tafsir at-Tustary, ta’liq: Muhammad Basil, Beirut:
Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2002 M-1423 H, hlm. 191, dinukil oleh Abu
Abdirrahman As-Sulamy dalam tafsirnyaHaqa’iq at-Tafsir, tahqiq: Sayyed
Imran, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2001 M-1421 H, Vol.II, hlm. 385.
[8] Diriwayatkan Imam Muslim dalam
Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaiq, Bab Qishah Ashabul Ukhdud,
nomer hadits: 3005 (Muhyiddin bin Syarah an-Nawawy, Shahih Muslim bi
Syarhi an-Nawawy, Cairo: Darul Hadits, Cet.I, 1994 M-1415 H, Vol.IX, hlm.
357-359)
[9] Juga diriwayatkan oleh Imam
at-Tirmizi dalam Kitab Tafsir al-Qur’an, Bab wa min Surah
al-Buruj, hadits nomer 3340. Beliau berkata: ini hadits hasan
gharib. (Sunan at-Tirmizi, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I,
2003 M-1424 H, hlm. 771)
[10] Raja dari Najran, di Negeri
Yaman, sebagian pendapat ada yang mengatakan peritiwa ini terjadi di Habsyah
(Ethiopia), pendapat pertama lebih kuat.
[11] dinukil oleh Syihabuddin
al-Alusy, Ruhul Maany, Beirut: Darul Fikr, 1997 M/1417 H, Vol. XXX.
hlm. 157-158. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya dan
Imam Nasa’i dalam Sunannya, sebagaimana dinukil Ibnu Katsir, Tafsir
al-Qur’an al-Azhim, Cairo: al-Maktab Ats-Tsaqafi, Cet.I, 2001, Vol.IV, hlm.
496-497
[12] Ada yang mengatakan 12 ribu,
apa pendapat yang menyatakan 70 ribu. Tapi tak satu pun riwayat yang
menyebutkan jumlah di atas shahih. (Ruhul Ma’any, Op.Cit,
hlm. 161)
[13] Dr. Manal Abu Hasan, Meniti
Jalan Taubat, penerjemah M. Hikam, dkk, Jakarta: Cakrawala Publishing,
2008, hlm. 142
[14] Ruhul Ma’any,
Op.Cit, hlm. 167
[15] Tafsir Ibnu Katsir,
Op.Cit, hlm. 500
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2014/09/02/56527/tadabbur-surat-al-buruj-gugusan-bintang-para-penggali-parit/#ixzz4S2AmvmeE
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook






Komentar
Posting Komentar